KAWI SASTRA MANDALAPUSTAKA DIGITAL · ALIH BAHASAKoleksi Alih Bahasa ↗
BAGIAN 17 / 50 · ± 4 MENIT BACA

3.2 Penghormatan pada Orang Tua

3.2 Penghormatan pada Orang Tua

Di seluruh Nusantara, ada satu nilai yang nyaris universal: menghormati orang tua dan sesepuh. Entah di Bali, Jawa, Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, hingga Papua, kita menemukan tradisi yang menempatkan orang tua pada posisi mulia. Walau berbeda istilah dan wujud praktik, intinya sama: orang tua adalah sumber kebijaksanaan, penghubung generasi, dan teladan moral.

Ajaran Hindu tentang Catur Asrama, khususnya Wanaprasta, sejalan dengan tradisi ini. Usia senja bukan masa menyingkir, melainkan masa dimuliakan. Budaya Nusantara menjadi cermin bahwa ajaran kitab suci tidak berdiri sendiri, tetapi menyatu dengan kehidupan bangsa ini sejak dahulu kala.

1. Jawa: Sesepuh, Pinisepuh, Aji Sepuh

Di Jawa dikenal istilah sesepuh, pinisepuh, dan aji sepuh.

Sesepuh adalah orang yang tua secara biologis.

Pinisepuh adalah orang yang dituakan karena jabatan atau status sosial.

Aji sepuh adalah orang yang dianggap matang dalam ilmu dan kebijaksanaan, meski usianya belum terlalu tua.

Tiga istilah ini menunjukkan bahwa usia tua tidak semata soal umur, tetapi juga soal pengalaman, jabatan, dan ilmu. Seorang sesepuh dihormati dalam acara adat, doa restu mereka dianggap penting. Seorang pinisepuh memberi wibawa dalam musyawarah desa. Seorang aji sepuh menjadi rujukan dalam hal ilmu pengetahuan maupun rohani.

Tradisi ini mengajarkan bahwa tua adalah modal sosial. Masyarakat Jawa menempatkan orang tua di barisan depan dalam upacara, duduk di tempat khusus, dan selalu dimintai restu sebelum keputusan diambil.

2. Bali: Penglingsir dan Tri Hita Karana

Dalam budaya Bali, orang tua disebut penglingsir. Mereka dianggap sebagai penjaga keseimbangan adat dan agama. Suara penglingsir sangat berharga dalam paruman banjar, karena diyakini membawa taksu (kekuatan spiritual).

Dalam konsep Tri Hita Karana, hubungan pawongan (antar manusia) menuntut agar generasi muda menghormati generasi tua. Restu orang tua diyakini membawa kelancaran dalam yadnya dan kehidupan sehari-hari. Tidak heran, dalam setiap upacara di Bali, kehadiran penglingsir memberi kesan lengkap dan sah.

Budaya Bali juga menekankan bhakti kepada orang tua. Anak yang berbakti kepada orang tua dianggap menjalankan śraddha-bhakti kepada Sang Hyang Widhi. Inilah bentuk nyata filosofi Wanaprasta yang menyatu dalam tradisi lokal.

3. Sumatra: Natua-tua ni Huta dan Dalihan Na Tolu

Di Batak Toba, ada istilah natua-tua ni huta—orang tua desa. Mereka berfungsi sebagai penasehat adat dan pemegang kearifan. Sistem Dalihan Na Tolu (tiga tungku) menekankan harmoni sosial, dan orang tua memiliki posisi penting sebagai penjaga harmoni itu.

Begitu pula di Minangkabau, orang tua atau ninik mamak menjadi pengarah dalam musyawarah adat. Kehadiran mereka dianggap syarat sah pengambilan keputusan.

Hal ini menunjukkan bahwa di Sumatra, orang tua memiliki makna legitimasi sosial dan adat. Tanpa restu mereka, keputusan tidak punya wibawa.

4. Kalimantan dan Sulawesi: Penatua dan Tetua Adat

Di Dayak Kalimantan, lansia disebut penatua atau kepala adat. Mereka dipercaya menjaga hubungan dengan roh leluhur. Dalam setiap ritual, suara mereka tidak bisa diabaikan.

Di masyarakat Bugis-Makassar, dikenal istilah to matua (orang tua) yang menjadi sumber nasehat dan penentu etika sosial. Dalam falsafah siri’ na pacce (harga diri dan solidaritas), orang tua menjadi pengingat agar masyarakat tidak melanggar norma.

Semua ini menunjukkan peran sosial Wanaprasta: meski fisiknya menurun, wibawa moral dan spiritualnya semakin meningkat.

5. Papua dan Tradisi Timur Lainnya

Di Papua dan Maluku, tetua adat sangat dihormati. Mereka dianggap sebagai penyambung pesan leluhur. Dalam rapat kampung, tetua adat duduk di posisi khusus, dan anak muda mendengarkan dengan penuh hormat.

Tradisi ini menunjukkan bahwa penghormatan pada orang tua adalah nilai universal Nusantara, bukan monopoli satu daerah atau agama.

6. Ajaran Hindu dan Tradisi Nusantara: Bertemu dalam Dharma

Ajaran Hindu tentang Wanaprasta sangat serasi dengan budaya Nusantara. Keduanya menekankan:

Orang tua bukan beban, tetapi teladan.

Usia tua bukan masa pensiun pasif, melainkan masa peran moral.

Restu sesepuh adalah bagian dari dharma.

Dengan demikian, kita bisa berkata: filosofi Hindu dan kearifan lokal Nusantara saling menguatkan. Hindu memberi dasar teologis, sementara budaya Nusantara memberi wujud praksis.

7. Tantangan Modern: Pudarnya Budaya Hormat

Sayangnya, arus modernisasi membuat nilai ini mulai memudar. Anak-anak sibuk dengan teknologi, orang tua sering tersisih. Banyak keluarga nuklir di kota tidak lagi tinggal bersama orang tua. Bahkan ada yang menitipkan orang tua ke panti jompo, padahal budaya Nusantara menekankan tinggal bersama dan merawat mereka.

Tantangan ini perlu dijawab. Kita harus menghidupkan kembali budaya hormat dengan cara yang relevan:

Mengajarkan anak sejak kecil untuk menyapa, mencium tangan, dan berbicara sopan pada orang tua.

Memberi ruang bagi orang tua dalam musyawarah keluarga dan adat.

Menghadirkan orang tua dalam upacara keagamaan dan memberi peran simbolis yang terhormat.

8. Makna Sosial-Religius dari Penghormatan

Menghormati orang tua bukan hanya urusan sosial, tetapi juga urusan rohani. Dalam Taittiriya Upanishad ditegaskan:
"Matru devo bhava, Pitru devo bhava."
(Ibu adalah perwujudan dewa, Ayah adalah perwujudan dewa).

Dengan menghormati orang tua, kita sesungguhnya menjalankan bhakti kepada Tuhan. Itulah mengapa dalam upacara Hindu, doa restu orang tua sering disamakan nilainya dengan doa restu dewa.

Merawat Akar Budaya, Memuliakan Sesepuh

Budaya Nusantara penuh ajaran mulia tentang penghormatan kepada orang tua. Dari Jawa hingga Papua, dari Bali hingga Sumatra, semuanya menempatkan sesepuh di posisi terhormat.

Inilah yang sejalan dengan ajaran Wanaprasta: menjadikan usia tua bukan akhir, tetapi puncak kebijaksanaan.

Sarasamuscaya sloka 150 menegaskan:
"Orang yang menghormati orang tua dan guru akan panjang umur, berwibawa, dan sejahtera."

Maka, mari kita rawat akar budaya ini. Jangan biarkan modernitas mencabutnya. Sebab bila penghormatan pada orang tua hilang, kita kehilangan bukan hanya nilai sosial, tetapi juga nilai dharma.

Cari dalam Wanaprasta: Jalan Bijak Menuju Usia Senja

Ketik sedikitnya 2 huruf.