Hana pwa siran panyolonga kebua, sapi, celeng, swana, wedua, banyak, itik, ayam, sakalwiraning wenang-wenang cinolongira, yan kalanining rahina, punah sang skara sira muwah, ndan maryana ta swabantana mangkana. Kunang yan tan mari, panten ika, ilang ikang kabujanggan. Kunang deya Sang Wiku, yan katunan yatra sira ring para-paran, tan dosa siran pangalap antimun 20, baligo 1, pari samustigraha nga sagegem, jalangnia, gangan salewirania, sayatasambawa, nangka 1, kalwi 5, mangkanang sentul, asing woh-wohan inalapnira aywa jugakweh. Yan kubwan adoh umah tan stanang gaga sawah, moliha saduwèging amangan, tan haranana steya sira yan mangkana. Kunang yan anggawaha mabotbotana, steya ngaranira yan mangkana, yogia rebutana de sang madrewia.

Apabila Sang Wiku menolong seseorang yang kehilangan hewan—seperti kerbau, sapi, babi, anjing, kambing, angsa, itik, ayam, atau hewan lain yang patut ditolong—dan pertolongan itu dilakukan pada siang hari, maka setelah tugas suci atau kewajiban hariannya selesai, ia hendaknya mengembalikan hewan-hewan tersebut kepada pemiliknya. Apabila tidak dikembalikan, maka perbuatan itu dianggap sebagai pelanggaran, dan keluhuran kewikuan pun lenyap.
Namun demikian, apabila Sang Wiku sedang dalam perjalanan jauh dan berada di daerah lain, ia tidak berdosa apabila mengambil secukupnya untuk kebutuhan hidupnya, seperti mentimun dua puluh buah, satu baligo, segenggam padi, jagung secukupnya, sayur-mayur secukupnya, satu buah nangka, lima buah kaluwih, demikian pula buah-buahan lain yang diambilnya hendaknya tidak berlebihan. Apabila ladang atau kebun itu jauh dari rumah pemiliknya dan tidak ada sawah atau ladang yang sedang dijaga, maka Sang Wiku boleh mengambil sekadar untuk makan dan tidak dianggap mencuri.
Akan tetapi, apabila pengambilan itu dilakukan dengan maksud menimbun atau membawa pulang dalam jumlah banyak, maka perbuatan itu disebut pencurian, dan sudah sepantasnya harta tersebut dirampas kembali oleh pemiliknya.
