Nanging yaning sampun roga, angkihane nenten kari, punika kabawos seda, tan wenten gunane malih, sami ya pada mabading, pitresnane dadi takut, napi malih nyama braya, rabine taler ngajrohin, reh puniku, napi ne patut saratang. Yaning sampun sahuninga, daging idupe sujati, ngendah pelag yan rawosang, satata nenten nginutin, suba ditu nagih dini, suba kene dot puniku, masih tonden mrasa bagya, wireh tan uning sujati, ngempu hidup, patut rasayang di raga. Yan yakti sampun ngrasayang, sakantun mayusa alit, telah anggon maplalyanan, dahat truna saget nampi, irika malih magulis, namtamin semara dudu, itep ngitungang gagelan, pang liyu bakat cipcipin, pang kasumbung, kagugu di mercapada. Tan mrasa sagetan tuwa, tuwuh tong dadi kelidin, tuwa tuwuh liyu pyanak, saget suba kapapagin, mangdene mataki-taki, ngampilan tingkahe hidup— | Namun apabila penyakit telah mencapai akhirnya dan napas tidak ada lagi, itulah yang disebut mati. Badan tidak lagi berguna. Rasa kasih yang sebelumnya begitu dekat dapat berubah menjadi rasa takut. Kerabat, bahkan pasangan hidup, akhirnya harus menjaga jarak. Karena itu pikirkanlah: apakah yang sesungguhnya perlu dipersiapkan? Apabila seseorang memahami hakikat kehidupan, ia tidak akan terus mengejar apa yang tampak indah. Setelah mendapat yang di sana, ia menginginkan yang di sini; setelah memperoleh yang ini, ia menginginkan yang lain. Namun kebahagiaan tetap belum dirasakan karena ia belum memahami kehidupan yang sejati. Hal itu harus dirasakan dan direnungkan dalam diri sendiri. Seandainya kesadaran tersebut ditanamkan sejak muda: masa kanak-kanak telah dipakai bermain; ketika remaja mulai mengenal berbagai keinginan, mulai memperindah diri dan terjerat asmara yang keliru. Orang menghitung-hitung pasangan dan pengalaman yang pernah dinikmati agar dapat dibanggakan dan dianggap hebat di dunia. Ia tidak merasa bahwa tiba-tiba dirinya menjadi tua. Pertumbuhan dan usia tidak mungkin dihindari. Menjadi tua, mempunyai anak dan keturunan, tiba-tiba sudah berada di hadapan. Karena itu sejak sekarang hendaknya mulai mempersiapkan bagaimana menjalani kehidupan. |

Wahai anak-anakku, setelah engkau memahami bahwa segala sesuatu di dunia berubah, sekarang renungkanlah perubahan yang paling tegas dalam kehidupan manusia: seda, kematian.
Selama napas masih mengalir, manusia merawat tubuhnya. Ia membersihkannya, menghiasnya, memberinya pakaian yang baik, makanan, obat, dan tempat beristirahat. Ketika sakit, berbagai usaha dilakukan agar tubuh kembali sehat. Namun akan datang suatu saat ketika napas berhenti. Pada saat itulah tubuh yang selama hidup begitu dijaga tidak lagi dapat dipertahankan.
Bahkan mereka yang paling mencintaimu akhirnya harus melepaskan tubuhmu.
Jangan takut mendengar nasihat ini. Aku tidak mengajak kalian mencintai kematian atau menjauhi kehidupan. Sebaliknya, aku ingin kalian lebih menghargai kehidupan karena mengetahui bahwa kehidupan mempunyai batas.
Tanyakanlah kepada dirimu: jika suatu hari semua yang melekat pada tubuh harus dilepaskan, apakah yang sepatutnya kupersiapkan sejak sekarang?
Manusia pada zaman kalian pandai membuat berbagai persiapan. Sejak anak-anak disiapkan pendidikan yang baik. Setelah dewasa dipikirkan pekerjaan, rumah, tabungan, investasi, asuransi, dan hari tua. Semua itu baik. Lakukanlah dengan sungguh-sungguh.
Tetapi jangan hanya mempersiapkan sesuatu yang akan kalian tinggalkan. Persiapkan pula sesuatu yang akan menjadi nilai kehidupanmu.
Apa gunanya memiliki tabungan yang banyak jika hubungan dengan anak-anak penuh luka? Apa artinya mempunyai jabatan tinggi apabila orang-orang mengenangmu sebagai manusia yang tidak adil? Sebaliknya, seseorang mungkin tidak mempunyai kekayaan besar, tetapi setelah ia tiada, anak-anaknya mengenangnya sebagai ayah yang jujur, murid-murid mengenangnya sebagai guru yang tulus, dan masyarakat mengenangnya karena pertolongannya.
Maka pahamilah: nilai kehidupan tidak hanya ditentukan oleh berapa banyak yang engkau miliki, tetapi oleh manusia seperti apa engkau telah menjadi.
Perhatikan pula sifat keinginan.
Hari ini seseorang berkata, “Aku akan bahagia kalau mempunyai kendaraan.” Setelah kendaraan itu diperoleh, ia melihat kendaraan yang lebih baik. Kemudian ia berkata, “Kalau yang itu kumiliki, barulah aku puas.”
Ketika jabatan diperoleh, ia menginginkan jabatan berikutnya. Ketika jumlah pengikut di media sosial bertambah, ia menginginkan lebih banyak lagi. Ketika rumah sudah selesai dibangun, muncul keinginan memperbesar rumah.
Apakah memiliki semua itu salah? Tidak.
Yang perlu engkau waspadai adalah ketika hatimu selalu berkata: “Kebahagiaan ada pada sesuatu yang belum kumiliki.”
Jika demikian, kebahagiaan akan selalu berjalan satu langkah di depanmu. Engkau mengejarnya sepanjang hidup, tetapi tidak pernah benar-benar sampai.
Karena itu belajarlah membedakan antara keinginan yang membuat kehidupan berkembang dan keinginan yang hanya memperpanjang kegelisahan.
Misalnya seseorang bekerja keras untuk meningkatkan kesejahteraan keluarganya. Itu baik. Tetapi apabila setiap malam ia pulang ketika anak telah tidur, hari liburnya tetap dipenuhi pekerjaan, tubuhnya mulai sakit, dan ia tidak lagi mempunyai waktu berbicara dengan pasangan, berhentilah sejenak dan bertanyalah: “Apakah tambahan yang kuperoleh lebih besar daripada sesuatu yang sedang hilang?”
Anak-anakku, tidak semua keuntungan dapat dihitung dengan uang.
Waktu bersama orang tua mempunyai nilainya sendiri. Kesehatan mempunyai nilainya sendiri. Kepercayaan pasangan mempunyai nilainya sendiri. Masa kecil anak-anak pun tidak dapat dibeli kembali setelah berlalu.
Lontar juga mengajakmu melihat perjalanan usia. Masa kecil diisi permainan. Ketika remaja, perhatian mulai tertuju pada penampilan, pergaulan, dan asmara. Setelah itu manusia membangun rumah tangga, mempunyai anak, bekerja, lalu tanpa terasa usia telah jauh berjalan.
Asmara bukanlah sesuatu yang harus kalian jauhi. Cinta dapat menjadi bagian indah dari kehidupan. Tetapi janganlah cinta berubah menjadi jalan kehilangan budhi.
Pada zaman kalian, ada orang yang merasa hubungan pribadinya harus selalu diperlihatkan kepada orang lain. Pasangan dipamerkan, hadiah ditampilkan, perjalanan diunggah, bahkan kebahagiaan rumah tangga seolah harus memperoleh pengakuan dari orang yang tidak mengenal mereka.
Berhati-hatilah.
Cinta yang baik tidak diukur dari berapa banyak orang melihatnya, tetapi dari kesetiaan, penghormatan, tanggung jawab, dan kemampuan dua manusia tumbuh bersama dalam dharma.
Jangan hidup hanya agar terlihat berhasil.
Sebab manusia yang terlalu sibuk membangun penampilan kehidupannya dapat lupa menjalani kehidupan itu sendiri.
Ada satu kata yang sangat sering menipu manusia: nanti.
“Nanti kalau sudah tidak sibuk, aku akan mengunjungi orang tuaku.”
“Nanti kalau sudah mapan, aku akan belajar agama.”
“Nanti aku akan menjaga kesehatan.”
“Nanti aku akan meminta maaf.”
“Nanti aku akan menulis sesuatu yang berguna.”
“Nanti aku akan lebih banyak membantu orang.”
Tetapi siapakah yang dapat memastikan bahwa “nanti” itu tersedia?
Jangan salah memahami nasihatku. Aku tidak mengatakan bahwa kalian harus melakukan semuanya hari ini dengan tergesa-gesa. Yang kuajarkan adalah: jangan terus menunda sesuatu yang engkau sendiri tahu sangat bernilai.
Bayangkan seorang manusia yang mengabdikan tiga puluh tahun hidupnya mengejar karier. Ia berhasil. Kedudukannya tinggi, rumahnya baik, tabungannya cukup. Ketika pensiun, barulah ia ingin dekat dengan anak-anak.
Namun anak-anak telah mempunyai kehidupan sendiri.
Ia tidak salah karena bekerja keras. Kesalahannya adalah mengira bahwa hubungan dapat selalu ditunda dan diperbaiki pada waktu yang ia pilih sendiri.
Waktu tidak bekerja seperti itu.
Karena itu, kesadaran akan kematian sesungguhnya bukan pelajaran tentang bagaimana mati. Ia adalah pelajaran mengenai bagaimana mengatur kehidupan sebelum kematian datang.
Rawatlah tubuh, tetapi sadarilah bahwa tubuh tidak kekal.
Carilah rezeki, tetapi jangan menukar seluruh kehidupanmu demi kekayaan.
Cintailah pasanganmu, tetapi jangan kehilangan budhi.
Bangunlah karier, tetapi jangan kehilangan keluargamu.
Gunakanlah waktu untuk bekerja, tetapi sisakan waktu untuk belajar, berbakti, meminta maaf, mengasihi, dan memberi manfaat.
Sesekali duduklah dalam keheningan dan tanyakan kepada dirimu sendiri:
Jika waktuku ternyata tidak sepanjang yang kubayangkan, apakah cara hidupku hari ini sudah benar?
Pertanyaan itu tidak perlu membuatmu sedih.
Justru ia dapat membebaskanmu dari banyak hal yang sesungguhnya tidak penting.
Engkau mungkin mulai mengetahui pertengkaran mana yang tidak perlu diteruskan. Engkau mengetahui siapa yang perlu segera ditemui. Engkau mengetahui pekerjaan apa yang benar-benar bernilai. Engkau mengetahui keinginan mana yang patut dilepaskan.
Dan perlahan engkau memahami bahwa mempersiapkan kematian tidak dilakukan dengan menunggu masa tua.
Ia dipersiapkan dengan menjalani kehidupan secara benar sejak sekarang.
Itulah salah satu jalan menuju galang apadang.
Jalan yang terang tidak baru dinyalakan ketika seda telah berada di depan mata. Terang itu dibangun sepanjang hidup—melalui hubungan yang diperbaiki, pengetahuan yang ditumbuhkan, dharma yang dijalankan, kesalahan yang dikoreksi, dan kebaikan yang ditinggalkan.
Maka ingatlah, anak-anakku:
Kematian membuat hidup mempunyai batas, tetapi justru karena ada batas itulah setiap hari menjadi berharga.
Jangan takut bahwa hidup akan berakhir.
Lebih patutlah engkau takut apabila hidup telah panjang, tetapi tidak pernah sungguh-sungguh digunakan untuk menjadi manusia yang lebih baik.