Pelajahan anggen nasarin, uli cenik kayang tuwa, ragane juwa pedasin, sirah iraga puniki, saking napi kawit ipun, munggwing sira meme bapa, dija genahe ne mangkin, mangda tuhu, sebet ring angga sarira. Yan tan mangrasa ring raga, tan uningin ne sujati, punika kabawos belog, keneh satata ulurin, buka mamanyjakin angin, satata ya srayang sruyung, sendeh mai ebah kema, bang-bange bakat ceburin, sampun labuh, ris bangun kapupungan. Yan keneh sai tuhutang, sukeh bakat ne sujati, ane tidong kaden saja, ne saja bakat cacadin, turing becat cara angin, saget dini saget ditu, yaning uber mangejohang, sampun edoh rawuh malih, metu bingung, wireh tan sida rasayang. Ri kalaning macacingak, ring sang listu hayu luwih, saget sampun kaliputan, semarane ngarab ngendih, makita ngutgut nyipcipin, punika sampun kaliru, wireh papinehe obah, bedeng kema bedeng mai— | Belajar hendaknya menjadi dasar sejak kecil sampai tua. Kenalilah diri sendiri dengan sungguh-sungguh. Dari mana tubuh ini berasal? Ia lahir melalui ibu dan ayah. Di manakah kita sekarang berada? Semua hendaknya direnungkan melalui keberadaan badan ini. Apabila seseorang tidak pernah memahami dirinya, ia tidak akan mengetahui kebenaran. Itulah kebodohan. Ia terus mengikuti keinginannya, seperti hendak memperbudak angin. Ia mudah digoyahkan ke sana-kemari dan dapat terjerumus ke dalam lubang. Setelah jatuh barulah ia bangun dalam kebingungan. Apabila setiap saat hanya mengikuti pikiran dan keinginan, kebenaran sulit ditemukan. Yang tidak benar dianggap benar, sedangkan yang benar justru dicela. Pikiran bergerak cepat seperti angin, kadang di sini dan kemudian di sana. Ketika dikejar ia menjauh, setelah jauh ia kembali. Akhirnya yang muncul hanyalah kebingungan. Ketika melihat seseorang yang sangat cantik atau menarik, pikiran dapat seketika diliputi asmara yang menyala-nyala dan ingin menikmatinya. Di situlah kekeliruan bermula, sebab pikiran mudah berubah dan menarik seseorang ke sana dan ke mari. |

Wahai anak-anakku, setelah kalian memahami bahwa hidup berubah dan kematian adalah batas yang pasti, sekarang arahkanlah pandanganmu ke tempat yang paling dekat tetapi sering paling sedikit dipahami: dirimu sendiri.
Jangan mengira belajar hanya berarti mengetahui banyak hal tentang dunia. Orang dapat membaca banyak buku, mengikuti banyak berita, bahkan menguasai berbagai ilmu, tetapi tetap belum mengenal dirinya.
Tanyakanlah: dari mana tubuhmu berasal?
Engkau lahir melalui ibu dan ayah. Sebelum mampu berdiri sendiri, ada tangan yang menggendongmu, ada orang yang bekerja untuk makananmu, ada guru yang membimbingmu, ada masyarakat yang menyediakan tempat hidup, dan ada alam yang memberimu udara, air, serta segala kebutuhan.
Maka jika suatu hari engkau berhasil, jangan terlalu cepat berkata, “Semua ini karena kemampuanku sendiri.”
Keberhasilan memang membutuhkan usaha, tetapi tidak pernah tumbuh dari ruang kosong.
Kesadaran tentang asal-usulmu akan menjaga kepandaian agar tidak berubah menjadi kesombongan.
Anak-anakku, orang yang tidak mengenal dirinya akan sulit mengenali kebenaran.
Pada zaman kalian, informasi tersedia hampir tanpa batas. Dalam beberapa detik manusia dapat mencari berita, pendapat, nasihat, atau ulasan tentang apa pun. Namun banyak informasi tidak selalu menghasilkan kebijaksanaan.
Mengapa?
Karena manusia sering tidak mencari kebenaran. Ia mencari sesuatu yang membenarkan keinginannya sendiri.
Bayangkan seseorang sudah sangat ingin membeli barang mahal. Sebelum membeli, ia membuka banyak ulasan. Tetapi perhatikan baik-baik: ulasan yang memuji dibacanya dengan senang, sementara peringatan tentang risiko dianggap berlebihan.
Ia berkata, “Aku sudah mempertimbangkan dengan matang.”
Padahal mungkin ia tidak sedang mempertimbangkan. Ia sedang mencari alasan agar keinginannya terlihat masuk akal.
Karena itu sebelum bertanya, “Apakah pendapat ini benar?”, tanyakan pula kepada dirimu: “Mengapa aku ingin pendapat ini menjadi benar?”
Di situlah pengenalan diri dimulai.
Gaguritan menggambarkan pikiran seperti angin.
Engkau tidak dapat menggenggam angin. Sekarang ia bertiup ke timur, sebentar kemudian berubah arah.
Demikian pula pikiran.
Pada pagi hari engkau membaca sebuah berita lalu marah. Beberapa menit kemudian sebuah video membuatmu tertawa. Setelah itu muncul iklan dan engkau ingin membeli sesuatu. Kemudian sebuah pesan datang dan seketika hatimu menjadi cemas.
Tubuhmu tetap duduk di tempat yang sama, tetapi pikiranmu telah berjalan ke banyak tempat.
Jika setiap rangsangan engkau ikuti, kapan pikiran mempunyai kesempatan untuk diam?
Karena itulah banyak manusia pada zaman ini merasa letih walaupun tubuhnya tidak banyak bergerak. Yang kelelahan bukan hanya badan, melainkan perhatian yang tidak pernah berhenti ditarik ke sana dan ke mari.
Jangan ikuti setiap angin yang berembus dalam pikiranmu.
Belajarlah berhenti.
Lontar juga menggambarkan manusia yang baru sadar setelah terjatuh ke dalam lubang.
Bukankah hal itu sering terjadi?
Seseorang baru menjaga makanan setelah dokter mengatakan kesehatannya terganggu.
Ia baru belajar mengatur uang setelah utangnya menumpuk.
Ia baru menyadari pentingnya pasangan setelah hubungan hampir berakhir.
Ia baru menghargai orang tua ketika kesempatan bersama mereka semakin sedikit.
Apakah manusia harus selalu jatuh dahulu untuk belajar?
Tidak.
Itulah gunanya sastra, nasihat, dan pengalaman orang lain. Orang bijaksana tidak hanya belajar dari luka yang dialaminya sendiri. Ia mampu melihat lubang yang pernah membuat orang lain jatuh lalu memilih jalan yang lebih baik.
Anak-anakku, ada tipu daya pikiran yang lebih halus lagi.
Pikiran dapat mengubah nama suatu sifat agar kita merasa nyaman.
Kemarahan kita sebut ketegasan.
Keserakahan kita sebut ambisi.
Iri hati kita sebut kritik.
Keinginan untuk dipuji kita sebut pelayanan.
Karena itu mengenal diri memerlukan keberanian.
Kadang-kadang kebenaran yang paling sulit diterima bukanlah kebenaran tentang orang lain, melainkan kebenaran tentang diri sendiri.
Biasakanlah bertanya:
“Apakah aku sedang mencari yang benar, atau hanya mencari alasan agar keinginanku terlihat benar?”
Pertanyaan sederhana itu dapat menyelamatkanmu dari banyak kekeliruan.
Gaguritan kemudian menggunakan asmara sebagai contoh yang sangat kuat.
Jangan salah mengerti. Cinta bukan musuh kehidupan. Ketertarikan antara manusia adalah sesuatu yang wajar.
Yang harus kalian waspadai adalah keadaan ketika ketertarikan menguasai budhi.
Ketika hati sangat terpikat, kekurangan orang lain mudah tidak terlihat. Peringatan dianggap gangguan. Nasihat keluarga dianggap sebagai usaha menghalangi kebahagiaan.
Pada zaman kalian, hubungan dapat berkembang sangat cepat melalui media sosial.
Seseorang baru beberapa minggu berkomunikasi, tetapi merasa telah menemukan manusia yang paling memahami dirinya. Ia kemudian memberikan informasi pribadi, membuat keputusan besar, bahkan mengirimkan uang sebelum benar-benar mengenal orang tersebut.
Apabila kemudian ia tertipu, orang bertanya, “Mengapa tidak melihat tanda-tandanya?”
Jawabannya sering sederhana: tanda itu sebenarnya ada, tetapi pikiran yang sedang dikuasai keinginan tidak ingin melihatnya.
Maka janganlah kalian membuat keputusan besar ketika pikiran sedang berada dalam keadaan ekstrem.
Ketika sangat marah, jangan segera mengirim pesan.
Ketika sangat takut, jangan cepat mengambil keputusan yang menentukan masa depan.
Ketika sangat terpikat, jangan tergesa-gesa menyerahkan kepercayaan.
Ketika sangat bersemangat terhadap sebuah investasi atau usaha, jangan abaikan risiko hanya karena membayangkan keuntungannya.
Berilah waktu.
Waktu sering kali menjadi sahabat budhi.
Cinta yang baik tidak takut diuji oleh waktu. Daya tarik mungkin membuka pintu hubungan, tetapi karakterlah yang menentukan apakah hubungan itu layak diteruskan.
Lihatlah kejujurannya.
Lihatlah bagaimana ia memperlakukan orang yang tidak mempunyai kepentingan baginya.
Lihatlah tanggung jawabnya.
Lihatlah apakah ia menghormatimu ketika kalian berbeda pendapat.
Sebab kecantikan dan ketampanan dapat menarik mata, tetapi kejujuran, kesetiaan, tanggung jawab, dan penghormatanlah yang menjaga kehidupan bersama.
Sekarang aku berikan latihan sederhana kepadamu.
Setiap kali muncul keinginan yang sangat kuat, jangan langsung bertindak.
Berhentilah sejenak.
Tanyakan tiga hal:
Apakah ini benar-benar perlu?
Apakah tindakan ini sesuai dengan dharma?
Apa akibatnya bagi diriku dan orang lain?
Ketika tanganmu hampir mengirim pesan kasar, letakkan teleponmu sebentar.
Ketika engkau melihat promosi yang sangat menggoda, tunggulah satu hari sebelum membeli.
Ketika ada berita yang membuatmu marah, jangan langsung menyebarkannya sebelum mengetahui apakah berita itu benar.
Jarak kecil antara dorongan dan tindakan itulah tempat budhi bekerja.
Mengenali diri bukan berarti menjadi manusia tanpa emosi.
Engkau tetap dapat marah. Engkau dapat merasa iri. Engkau dapat takut. Engkau dapat jatuh cinta.
Perbedaannya adalah engkau mulai mengetahui apa yang sedang terjadi di dalam dirimu.
Orang yang belum mengenal dirinya berkata, “Aku marah karena dia memang salah.”
Orang yang mulai mengenal dirinya dapat berkata, “Aku sedang marah. Karena itu mungkin penilaianku belum sepenuhnya jernih.”
Lihatlah perbedaannya.
Pada kalimat pertama, emosi menjadi penguasa.
Pada kalimat kedua, engkau mulai berdiri sedikit jauh dari emosimu dan melihatnya.
Di situlah kebebasan batin mulai tumbuh.
Anak-anakku, dunia akan terus menawarkan sesuatu untuk kalian kejar. Akan selalu ada barang yang lebih baru, kedudukan yang lebih tinggi, berita yang lebih menarik, dan manusia yang lebih memikat.
Jika engkau tidak mengenali dirimu, engkau akan menghabiskan hidup seperti orang yang mengejar angin.
Hari ini ke sana.
Besok ke sini.
Setelah lelah, engkau mungkin bertanya, “Sebenarnya apa yang kucari?”
Karena itu sebelum berusaha menguasai dunia, belajarlah memahami dirimu.
Kenali keinginanmu.
Kenali ketakutanmu.
Kenali kelemahanmu.
Kenali pula kekuatan yang dapat engkau gunakan untuk berbuat baik.
Inilah galang apadang dalam lempir ini.
Terang bukan berarti pikiran tidak lagi bergerak. Terang berarti engkau mampu melihat geraknya.
Terang bukan berarti tidak mempunyai keinginan. Terang berarti engkau dapat memilih keinginan mana yang layak diikuti.
Dan terang bukan berarti tidak pernah melakukan kesalahan.
Terang berarti ketika engkau melihat dirimu mulai berjalan menuju arah yang salah, engkau mempunyai kesadaran dan keberanian untuk kembali ke jalan dharma.