KAWI SASTRA MANDALAPUSTAKA DIGITAL · ALIH BAHASAKoleksi Alih Bahasa ↗
BAGIAN 16 / 99 · ± 2 MENIT BACA

6b. Amanat Dharma dari Raja Ayam Wuruk

gung alipung iku lalana Sang Hyang Manobhawa, ka wuwusi Canda Purana ; ica tuduh Hyang umaranira jayeng pangrus Sri Ayam Uruk sida parameswara. Takatakana sang mabhanawa laksana, turunya siréng bubat, sarawirya panemuya Aji, bogopaboga, sahamas maniraja mulya. Apan mangkana puri ira Sang manemwaken tastaguna ana. Ipam olem kulen. Lawasira nema kulen sira akulem, sakulem kulen tumung ikang pisaca gana, atempuhtem pahan. Nimitanya mangka, maneba barung magantan ikang Sunda, lingsim sirep, sasalatiyam, dayam kalam, saprabhata, dayanira alalangwan lingsyanira pikat anjabung, nyan abuburu. Wus mangkana mantuk pwa maring nagara, dumunung pwa maring kaksatryan, karah wirya panemuya Aji bogopaboga, saha mas manirajya mudya. Apan mangkana purihira sang anamwaken kastaguna ana. Kalani prebata, tu, ha, pu, wi. Sedeng nira énjing tuca Aji Ayam Uruk,

❖ ❖ ❖

Perjalanan besar itu merupakan pengembaraan Sang Hyang Manobhawa, sebagaimana diceritakan dalam Canda Purana. Atas kehendak dan petunjuk Hyang, beliau tampil sebagai penakluk yang jaya. Pada masa itu Sri Ayam Wuruk telah teguh sebagai Parameswara, penguasa tertinggi.

Dikisahkan tentang sosok utama dalam perjalanan ini—tanda-tanda keluhuran dan kepahlawanannya tampak jelas. Ia tiba di Bubat, membawa kewibawaan dan keberanian; perjumpaannya dengan sang raja berlangsung dalam suasana kemegahan, kemakmuran, dan kejayaan kerajaan. Segala keutamaan dan kecakapan menyatu dalam dirinya, sehingga istana tempat ia singgah tampak memiliki delapan kebajikan yang lengkap.

Ia berdiam dan menenangkan diri sejenak; masa-masa itu dilalui dengan penuh kewaspadaan. Dalam perjalanannya, berbagai rintangan dan gangguan—diibaratkan sebagai pasukan makhluk gelap—berhasil diatasi dan ditembus. Karena itulah terjadi peristiwa besar: pasukan Sunda dapat ditundukkan, perlawanan mereda, suasana menjadi sunyi dan terkendali; siang dan malam berlalu hingga fajar menyingsing. Daya kepahlawanan dan kecerdikannya memikat perhatian banyak orang, seolah menjadi buruan pujian dan kekaguman.

Setelah semuanya berlalu, ia kembali ke negeri asal dan menetap di lingkungan kesatria. Kejayaannya sebagai penemu dan peneguh kemakmuran raja kembali tampak—emas, harta, dan kemuliaan kerajaan berada pada keadaan seimbang. Hal itu terjadi karena istana yang menaunginya memiliki kelengkapan delapan kebajikan.

Saat fajar tiba—ditandai oleh tahapan waktu tu, ha, pu, wi—pada pagi hari itulah Sri Ayam Wuruk kembali disebut dalam kisah, menandai berlanjutnya peristiwa besar berikutnya.

Cari dalam Babad Dalem Samprangan

Ketik sedikitnya 2 huruf.