KAWI SASTRA MANDALAPUSTAKA DIGITAL · ALIH BAHASAKoleksi Alih Bahasa ↗
BAGIAN 22 / 99 · ± 2 MENIT BACA

9b. Gelar Kehormatan dan Tata Duduk Istana

Titanen sang kadi kadarsa daryanira, prapténg jeng Aji mendek anembah kaya carana, jong teka tumingal, kidépang Hyang Smaranular, lewih Sang Nata kidil atah. Wus mangkana, alinggih amadapa kadi ri surat, kahebannin ring angsoka raras, sregep saupacara Sang Mantrinira, ana déné Sirakryan Pinatih, Kubon-Tubuh, Inguri, Pacung, Abyan-Semal, mwang Cacaha. Menggep srepé liring piteket ira, kang ri wétan Bali sabhayangkara, kulwan Brangbangan, Pasuruhan, kéri Palémbang samadunten, ling Sang Aji ; Bhágya anangkil, kalagyaningulun, durung ngong sagocara lawan sira. Nalingira sang lilingan anembah, pwa samadaya ; Ala bhágya kamayang andika Paduka Aji, Sri Aji Panengker karwa pwa sira sinembah, apan Praméswara sinenggah akalihan. Wus mangkana, prapta pwang sedah, oyéng taas mas atandes araras, rinawisan smining sarpa papuspa kaparéng kulwan, sira Patih Teteg, Patih Menjung sira anamira, manih sira Patih Gowi, sira Patih Margalewih,

❖ ❖ ❖

Mereka yang hadir tampak laksana orang-orang yang telah lama saling mengenal dan memahami maksud satu sama lain. Ketika tiba di hadapan Sri Aji, mereka mendekat dan menyembah sesuai tata cara yang berlaku. Saat pandangan mereka bertemu, terasa seolah Hyang Smara kembali memancarkan pesonanya—bahkan kewibawaan sang raja tampak semakin kuat dan berlapis.

Setelah itu, Sri Aji pun duduk bersemayam di balai pertemuan, tertata rapi sebagaimana tertulis dalam aturan adat. Tempat itu dihiasi bunga angsoka yang indah dan menenteramkan. Seluruh upacara dijalankan dengan tertib oleh para menterinya. Hadir di sana Sirakryan Pinatih, Kubon Tubuh, Inguri, Pacung, Abyan Semal, serta Cacaha.

Pandangan Sri Aji kemudian diarahkan dengan penuh perhatian. Dari wilayah timur Bali para pengawal telah siap siaga, dari barat hadir Brangbangan dan Pasuruhan, sedangkan dari arah seberang datang Palémbang dengan sikap yang tertib dan penuh hormat.

Sri Aji lalu bersabda:

“Sungguh berbahagia aku melihat kalian menghadap. Namun sampai saat ini, aku belum sempat berbincang secara mendalam dengan kalian.”

Mendengar titah itu, semua yang hadir pun menyembah serempak dan menjawab:

“Ampun Paduka Sri Aji, bila perkenan dan kesempatan itu belum tiba. Engkaulah yang kami sembah, Sri Aji Panengker, sebab Paduka adalah Parameswara, penguasa tertinggi yang dijunjung bersama.”

Setelah itu, jamuan pun disuguhkan. Hidangan dan perlengkapan keemasan ditata dengan indah dan menenteramkan hati. Alas hidangan dihiasi anyaman halus dan rangkaian bunga; dari sisi barat tampak Patih Teteg dan Patih Menjung menempati tempatnya. Menyusul kemudian Patih Gowi dan Patih Margalewih, melengkapi barisan dalam suasana pertemuan yang khidmat dan penuh hormat.

Cari dalam Babad Dalem Samprangan

Ketik sedikitnya 2 huruf.