KAWI SASTRA MANDALAPUSTAKA DIGITAL · ALIH BAHASAKoleksi Alih Bahasa ↗
BAGIAN 29 / 77 · ± 2 MENIT BACA

14a. Luasnya Kesadaran

14a. Luasnya Kesadaran

Tumrang rasmin ikang prabhakara mijil ring hati mamenuning sabhuwana. Doning candraka lor lepas ring pangungganganira na ruhur i tan katungkulana, lwaning wekumb ikang jagat ndatan alo genggira juga ya tan pahiṅhanan, akasan ta ya suksma dadya maganal litira juga ya tan patuduhan, dohning doh maparek ndatan paheleṭan hana ring angen-angen susuksma ya. Norang netra na karna tan hana hirung tutuka sarira tan hane sira, ndah wruh ring rasa gandha panghucap-ucap rupani rupa kabeh ya tan kari, pangagunin mula wrettisara saringaning bhuwana halayu pwa tan waneh.

Alih Bahasa
Cahaya seperti matahari memancar dari dalam hati, memenuhi seluruh alam. Cahaya bulan pun melampaui batas, tidak terikat oleh tempat. Luasnya dunia tidak membatasi dirinya, ia tidak terhalang oleh apa pun. Ia halus seperti ruang, tidak dapat ditunjukkan, jauh namun dekat tanpa jarak, sangat halus dalam kesadaran. Ia tidak terikat oleh mata, telinga, hidung, atau tubuh, tetapi mengetahui rasa, bau, kata, dan bentuk tanpa keterikatan. Ia memahami inti dari segala yang ada di dunia, tanpa ada yang berbeda.

Ulasan
Bagian ini menggambarkan kondisi:
kesadaran yang terang, luas, dan tidak terbatas.

Diibaratkan seperti cahaya:

menerangi semuanya

tidak memilih

tidak terhalang

Dalam kehidupan sehari-hari, ini bisa dipahami sebagai:
pikiran yang jernih dan tidak sempit.

Banyak masalah sekarang muncul karena:

cara pandang sempit

cepat menilai

cepat menghakimi

Contoh nyata:

beda pendapat → langsung dianggap salah

melihat orang dari penampilan → langsung menilai

mendengar kabar → langsung percaya tanpa cek

Ini karena kesadaran masih “sempit”.

Dharma Putus mengajarkan:
perluas cara melihat.

Orang yang kesadarannya “luas”:

lebih sabar

lebih terbuka

tidak mudah menghakimi

Bagian ini juga bilang:
tidak tergantung pada indra (mata, telinga, dll).

Artinya:
tidak langsung percaya apa yang terlihat.

Contoh sehari-hari:

orang terlihat baik → belum tentu benar

orang terlihat keras → belum tentu buruk

situasi terlihat sulit → belum tentu buruk

Kalau hanya pakai indra, sering salah.

Perlu “rasa dalam”:

melihat lebih dalam

tidak reaktif

tidak buru-buru menyimpulkan

Bagian penting lainnya:
“jauh tapi dekat”.

Maknanya:

kebenaran itu tidak jauh

tapi sering tidak terlihat karena kita tidak sadar

Seperti:

ketenangan sebenarnya dekat

tapi kita sibuk sendiri

akhirnya tidak merasakannya

Bagian ini juga menunjukkan:
semua sebenarnya satu kesatuan.

Kalau dipahami:

lebih mudah menerima

tidak mudah benci

tidak merasa terpisah

Contoh:

lebih menghargai orang lain

tidak mudah konflik

lebih damai dalam hidup

Bagian akhir:
memahami “inti” dari segala sesuatu.

Ini berarti:

tidak hanya melihat permukaan

tidak mudah tertipu

lebih bijak dalam bertindak

Intinya:
bagian ini mengajarkan:
luaskan kesadaran, jangan hanya melihat dari luar—kalau pikiran jernih, hidup jadi lebih terang dan tidak mudah salah arah.

Cari dalam Dharma Putus dan Dharma Sunya Kling

Ketik sedikitnya 2 huruf.