14a. Luasnya Kesadaran
Tumrang rasmin ikang prabhakara mijil ring hati mamenuning sabhuwana. Doning candraka lor lepas ring pangungganganira na ruhur i tan katungkulana, lwaning wekumb ikang jagat ndatan alo genggira juga ya tan pahiṅhanan, akasan ta ya suksma dadya maganal litira juga ya tan patuduhan, dohning doh maparek ndatan paheleṭan hana ring angen-angen susuksma ya. Norang netra na karna tan hana hirung tutuka sarira tan hane sira, ndah wruh ring rasa gandha panghucap-ucap rupani rupa kabeh ya tan kari, pangagunin mula wrettisara saringaning bhuwana halayu pwa tan waneh.
Alih Bahasa
Cahaya seperti matahari memancar dari dalam hati, memenuhi seluruh alam. Cahaya bulan pun melampaui batas, tidak terikat oleh tempat. Luasnya dunia tidak membatasi dirinya, ia tidak terhalang oleh apa pun. Ia halus seperti ruang, tidak dapat ditunjukkan, jauh namun dekat tanpa jarak, sangat halus dalam kesadaran. Ia tidak terikat oleh mata, telinga, hidung, atau tubuh, tetapi mengetahui rasa, bau, kata, dan bentuk tanpa keterikatan. Ia memahami inti dari segala yang ada di dunia, tanpa ada yang berbeda.
Ulasan
Bagian ini menggambarkan kondisi:
kesadaran yang terang, luas, dan tidak terbatas.
Diibaratkan seperti cahaya:
menerangi semuanya
tidak memilih
tidak terhalang
Dalam kehidupan sehari-hari, ini bisa dipahami sebagai:
pikiran yang jernih dan tidak sempit.
Banyak masalah sekarang muncul karena:
cara pandang sempit
cepat menilai
cepat menghakimi
Contoh nyata:
beda pendapat → langsung dianggap salah
melihat orang dari penampilan → langsung menilai
mendengar kabar → langsung percaya tanpa cek
Ini karena kesadaran masih “sempit”.
Dharma Putus mengajarkan:
perluas cara melihat.
Orang yang kesadarannya “luas”:
lebih sabar
lebih terbuka
tidak mudah menghakimi
Bagian ini juga bilang:
tidak tergantung pada indra (mata, telinga, dll).
Artinya:
tidak langsung percaya apa yang terlihat.
Contoh sehari-hari:
orang terlihat baik → belum tentu benar
orang terlihat keras → belum tentu buruk
situasi terlihat sulit → belum tentu buruk
Kalau hanya pakai indra, sering salah.
Perlu “rasa dalam”:
melihat lebih dalam
tidak reaktif
tidak buru-buru menyimpulkan
Bagian penting lainnya:
“jauh tapi dekat”.
Maknanya:
kebenaran itu tidak jauh
tapi sering tidak terlihat karena kita tidak sadar
Seperti:
ketenangan sebenarnya dekat
tapi kita sibuk sendiri
akhirnya tidak merasakannya
Bagian ini juga menunjukkan:
semua sebenarnya satu kesatuan.
Kalau dipahami:
lebih mudah menerima
tidak mudah benci
tidak merasa terpisah
Contoh:
lebih menghargai orang lain
tidak mudah konflik
lebih damai dalam hidup
Bagian akhir:
memahami “inti” dari segala sesuatu.
Ini berarti:
tidak hanya melihat permukaan
tidak mudah tertipu
lebih bijak dalam bertindak
Intinya:
bagian ini mengajarkan:
luaskan kesadaran, jangan hanya melihat dari luar—kalau pikiran jernih, hidup jadi lebih terang dan tidak mudah salah arah.