17b. Jati Tanpa Kata
Tan wanten rinasan luput pinahidep tuna cinarita warna laksana, tan manon ta ya sunya nirbhana ya tan Siwa Parama Siwa pwa tan hana, mari sandi panandi tan karaketan luput inangen-angen namut rengo. Ndan wus mangkana tan hana wruh irika muwah ana winuwus tatha krama, sangkeng tan hana yan wijil sira mawapaḍhang ikang inaran Siwatmaka, malwa wanga suhun mawas ya ta madresti ta yang angen-angen samangkana, nityang cetana nirbhana ta ya lengeng pangawakira manon ndatan katon. Mwang sangke rika Sang manon wahu mijil kadi ta hebuneng agra ning kusa, maprabha kadi surya teja mapadha sira maka huriping sarat kabeh.
Alih Bahasa
Keadaan itu tidak dapat dirasakan, tidak dapat dipikirkan, tidak dapat diceritakan dengan bentuk atau ciri apa pun. Ia bukan sesuatu yang dapat dilihat, bahkan tidak dapat disebut sebagai Siwa atau Parama Siwa, karena melampaui semua itu. Tidak dapat ditangkap oleh pikiran maupun pendengaran. Setelah mencapai keadaan itu, tidak ada lagi yang dapat dijelaskan dengan cara biasa, karena tidak ada sesuatu yang muncul sebagai objek. Dari keadaan tanpa itu, muncullah terang yang disebut Siwatmaka. Ia seperti cahaya yang tiba-tiba muncul, seperti sinar matahari yang menyinari seluruh kehidupan. Kesadaran itu selalu ada, hening, tidak terlihat, namun menjadi dasar dari segala yang hidup.
Ulasan
Bagian ini menekankan satu hal yang sangat penting:
tidak semua hal bisa dijelaskan dengan kata-kata.
Di kehidupan sehari-hari, kita terbiasa:
ingin semua dijelaskan
ingin semua dimengerti
ingin semua diberi nama
Padahal ada hal yang hanya bisa:
dirasakan, bukan dijelaskan.
Contoh sederhana:
rasa damai saat duduk sendiri
perasaan lega setelah memaafkan
ketenangan saat menerima keadaan
Sulit dijelaskan, tapi nyata.
Dharma Putus menunjukkan bahwa:
puncak kesadaran juga seperti itu.
Tidak bisa:
digambarkan
dijelaskan
dipikirkan
Kalau dipaksakan, justru meleset.
Bagian ini juga bilang:
bahkan istilah seperti “Siwa” pun dilampaui.
Artinya:
jangan terjebak nama
jangan terjebak konsep
jangan terjebak label
Karena kebenaran itu lebih luas dari kata.
Dalam kehidupan sehari-hari:
orang sering debat istilah
memperdebatkan kata
merasa paling benar karena definisi
Padahal esensinya bisa hilang.
Bagian ini mengajak:
lepas dari kata, masuk ke pengalaman langsung.
Hal menarik lainnya:
dari “ketiadaan”, muncul “cahaya”.
Maknanya:
saat pikiran benar-benar tenang,
justru muncul kejernihan.
Contoh:
saat berhenti memikirkan masalah → tiba-tiba solusi muncul
saat tidak memaksa → jadi lebih jelas
saat diam → jadi lebih paham
Ini sering terjadi, tapi jarang disadari.
Bagian ini juga menunjukkan:
kesadaran itu:
tidak terlihat
tidak berbentuk
tapi menjadi dasar semua kehidupan
Seperti:
listrik tidak terlihat, tapi semua alat hidup karena itu
udara tidak terlihat, tapi kita hidup karena itu
Begitu juga kesadaran.
Intinya:
bagian ini mengajarkan bahwa
kebenaran tertinggi tidak bisa dijelaskan—harus dialami langsung. Saat pikiran berhenti, muncul kejernihan yang menjadi sumber kehidupan itu sendiri.