KAWI SASTRA MANDALAPUSTAKA DIGITAL · ALIH BAHASAKoleksi Alih Bahasa ↗
BAGIAN 35 / 77 · ± 2 MENIT BACA

17a. Menjadi Hening

17a. Menjadi Hening

Mekara telu lawenya ring tengah ratna jyoti, ya ta karanan ikang Hyang Sakti munggwing hana ngka. Ri pamancakira Sanghyang meru matyanta mukya, parama subha subhadra toya nirmmala tirtha, teleng ing amerta mayrang pangkaja sweta warna, mekar amenuhin tirtha sewu lawenya sasri. Wwanten mungguh ring madhyaning kamala tulya hima jala ring tungtunging trenna, imper surya katon prabhanya sumo dumilah amenuhin tri mandala, ri madhyanika sunya nirbhana lengeng pangawakira manon ndatan katon, nitya cetana suddha jagra paramartha Siwa sira Bhatara tan waneh. Rep lunga tika Sang manon mari mawak pamekasing umuwus pangasrayan.

Alih Bahasa
Di tengah cahaya permata itu terdapat tiga kelopak yang mekar, sebagai tempat bersemayam Hyang Sakti. Pada puncak Meru yang utama terdapat air suci yang sangat jernih, seperti amerta yang memancar dari teratai putih yang mekar dengan indah. Di tengah teratai itu terdapat cahaya seperti matahari yang memancar memenuhi seluruh alam. Di pusatnya terdapat keadaan sunya yang hening, tidak tampak, namun menjadi kesadaran yang selalu terjaga dan murni, itulah hakikat Siwa yang sejati. Di sanalah pikiran berhenti, dan seseorang mencapai tempat terakhir sebagai sandaran.

Ulasan
Bagian ini menggambarkan tahap paling dalam:
pikiran berhenti, dan yang tersisa hanya kesadaran yang jernih.

Biasanya hidup kita dipenuhi:

pikiran terus berjalan

komentar di dalam kepala

khawatir ini itu

Seolah tidak pernah benar-benar diam.

Bagian ini menunjukkan kondisi berbeda:
ada titik di mana pikiran berhenti, tapi kita tetap sadar.

Ini bukan tidur, bukan kosong,
tapi:

tenang

jernih

sadar penuh

Contoh sederhana dalam kehidupan:

saat duduk diam menikmati pagi tanpa memikirkan apa-apa

saat benar-benar fokus sampai lupa waktu

saat merasa damai tanpa alasan

Itu “cuplikan kecil” dari kondisi ini.

Bagian ini juga menggambarkan:
semakin ke dalam, semakin sederhana.

Awalnya:

banyak pikiran

banyak keinginan

banyak reaksi

Lama-lama:

lebih tenang

lebih sedikit reaksi

lebih jernih

Sampai akhirnya:
tidak banyak yang perlu dipikirkan lagi.

Ini bukan berarti tidak peduli,
tapi karena sudah jelas.

Bagian “air suci” dan “cahaya” bisa dimaknai sebagai:

kejernihan

ketenangan

kesadaran yang hidup

Dalam kehidupan sehari-hari:
orang seperti ini akan:

tidak mudah panik

tidak mudah bingung

tidak mudah kehilangan arah

Walaupun situasi berubah.

Bagian paling penting:
di sanalah “tempat terakhir” (sandaran).

Artinya:

tidak lagi mencari ke luar

tidak lagi bergantung pada kondisi

tidak lagi merasa kurang

Semua sudah “cukup”.

Ini sangat relevan sekarang, karena banyak orang:

terus mencari tanpa henti

merasa tidak pernah cukup

selalu ingin lebih

Dharma Putus menunjukkan:
ada titik di mana pencarian selesai.

Intinya:
bagian ini mengajarkan bahwa
ketenangan sejati muncul saat pikiran berhenti dan kesadaran menjadi jernih—di situlah rasa cukup dan damai yang sebenarnya.

Cari dalam Dharma Putus dan Dharma Sunya Kling

Ketik sedikitnya 2 huruf.