Gelis tityang nguningayang / awinan gipih mariki / kawit tityang ngrereh sekar / saking pituduh i aji / mangge ring pamujan wyakti / polihe durung ja cukup / sangkan malih mangulahang / saget angsoka kaaksi / mangerembun / magenah maminggir tukad.

Segera hamba menyampaikan, bahwa hamba datang ke sini karena terdorong. Sejak awal hamba mencari bunga, berdasarkan petunjuk ajaran. Untuk digunakan dalam pemujaan pribadi, namun hasilnya belumlah cukup. Karena itu hamba kembali mengulang, agar dapat menyaksikan bunga angsoka, yang berembun, berada di tepi sungai.

Bait ini sangat simbolik. Sang Sucita menjelaskan bahwa ia datang bukan sekadar karena pesona, tetapi untuk mencari bunga bagi pemujaan.
Bunga dalam tradisi Hindu adalah simbol kesucian niat. Mencari bunga berarti mencari persembahan terbaik bagi Tuhan.
“Pituduh i aji” — petunjuk ajaran. Artinya, bahkan dalam pertemuan yang tampak romantis, Sang Sucita tetap berpijak pada dharma.
“Polihe durung ja cukup” — hasilnya belum cukup. Ini bukan sekadar soal bunga, tetapi simbol bahwa pencarian spiritual tidak berhenti pada satu tahap.
Bunga angsoka yang berembun di tepi sungai menjadi metafora yang indah:
Angsoka melambangkan ketenangan dan cinta yang halus.
Embun melambangkan kesucian pagi dan kejernihan batin.
Sungai melambangkan aliran kehidupan.
Pertemuan dengan Mirah terjadi dalam konteks pencarian spiritual. Artinya, cinta yang lahir bukan karena nafsu semata, tetapi dalam ruang kesucian.
Pesan halus bagi generasi muda:
Jika cinta tumbuh dalam ruang yang suci, ia akan membawa kebaikan.
Jika pencarian dunia selalu diikat pada dharma, maka bahkan pertemuan tak terduga menjadi bagian dari perjalanan spiritual.
Sang Sucita tidak datang dengan niat tersembunyi, melainkan dengan niat memuja.
Dan di sanalah maknanya dalam: cinta yang lahir dari niat suci tidak menjauhkan dari Tuhan, melainkan mendekatkan.
Karena bunga yang dipersembahkan dan bunga yang ditemui ternyata sama-sama lahir dari taman kesadaran.
