Djelantik, Ida Ketut. Geguritan Sucita. Naskah lontar. (Sumber teks utama).
Bagus, I Gusti Ngurah. 1980. Kebudayaan Bali. Denpasar: CV Kayumas.
Kamus Jawa Kuna–Indonesia. 1994. Yogyakarta : PT Gramedia Pustaka Utama.
Pudja, Gde. 1984. Bhagavad Gita. Jakarta: Mayasari.
Pudja, Gde & Sudharta, Tjokorda Rai. 1995. Manawa Dharmasastra. Surabaya: Paramita.
Sudharta, Tjokorda Rai. 2001. Upadeśa: Ajaran-ajaran Agama Hindu. Surabaya: Paramita.
Geguritan Sucita adalah karya sastra Bali klasik yang sarat ajaran hidup, dibingkai dalam keindahan tembang tradisional. Di dalamnya tersimpan tuntunan tentang pengendalian diri, kemurnian pikiran, tata krama, dharma, serta kedewasaan dalam menghadapi rasa dan kehidupan.
Melalui perjalanan Sang Sucita dan dialog penuh kebijaksanaan bersama Dyah Karuni, pembaca diajak memahami bahwa cinta bukan sekadar gejolak indria, melainkan proses pematangan jiwa. Tri Kaya, Catur Warga, karma, dan wiweka menjadi fondasi agar hidup tidak terseret oleh dorongan sesaat.
Bagian demi bagian tembang disajikan kembali melalui alih bahasa dan kajian reflektif agar mutiara ajaran yang terkandung di dalamnya dapat dipahami oleh generasi masa kini. Upaya ini merupakan bentuk penghormatan kepada leluhur yang telah mewariskan karya luhur sebagai penuntun kehidupan.
Geguritan Sucita bukan hanya cerita, tetapi cermin perjalanan batin manusia — dari pengendalian diri, ujian rasa, hingga kesadaran yang memurnikan cinta dalam terang dharma.
Sebuah warisan nilai untuk generasi muda, agar mampu berjalan teguh di Meru dirinya sendiri.