KAWI SASTRA MANDALAPUSTAKA DIGITAL · SERIAL MAHABHARATAPustaka Baca ↗
BAGIAN 63 / 68 · ± 2 MENIT BACA

Parwa Rajadharmanusasana — Bagian CXXX

Dengarkan bagian iniSuara bahasa Indonesia dari perangkat Anda

Bagian CXXX

Yudhishthira berkata, “Bagaimana seharusnya sikap seorang raja yang kehilangan sahabat, dikelilingi musuh, kasnya kosong, dan tidak memiliki pasukan? Bagaimana ia harus bertindak ketika dikelilingi menteri jahat, rahasianya terbongkar, tidak mampu menilai keadaan, dan bahkan harus berperang melawan musuh yang lebih kuat? Apakah ia harus mencari kekayaan dengan cara buruk, atau lebih baik mati tanpa mencarinya?”

Bhishma berkata, “Pertanyaanmu sangat dalam, karena dharma itu halus. Ia hanya dapat dipahami melalui ajaran kitab suci, ingatan atas apa yang didengar, dan praktik kebajikan. Kadang kecerdasan membawa keberhasilan, kadang tidak. Maka gunakanlah kebijaksanaanmu sendiri.

Dengarkan prinsip penting ini: ketika kas kerajaan berkurang, kekuatan pun melemah. Karena itu raja harus mengisinya kembali—bahkan seperti seseorang yang menciptakan air di padang tandus. Namun jika kas diisi dengan penindasan, itu akan membawa kehancuran. Ini adalah kesimpulan para bijak.

Ilmu yang dipelajari membentuk cara berpikir seseorang. Pengetahuan melahirkan strategi, dan strategi membawa keberhasilan. Tanpa pengetahuan, seseorang akan buntu dalam mencari jalan keluar.

Dalam masa sulit:

kewajiban berubah,

yang biasa dianggap tidak benar bisa menjadi dapat dibenarkan,

keselamatan hidup lebih utama daripada pencapaian pahala.

Raja yang lemah tidak akan mampu bertahan hanya dengan kebajikan tanpa kekuatan. Karena itu, dalam keadaan terdesak, tindakan yang biasanya tidak dibenarkan kadang dianggap perlu—meskipun para bijak tetap menganggapnya berisiko dosa.

Namun setelah krisis berlalu, raja harus kembali ke jalan dharma.

Prinsip penting:

jangan putus asa,

utamakan menyelamatkan diri dan kerajaan,

kekuatan Ksatria adalah usaha dan keberanian, bukan pasrah pada nasib.

Seorang Ksatria dalam kesulitan:

boleh mengambil harta dari siapa saja, kecuali dari Brahmana dan pertapa,

tidak boleh mengemis,

tidak boleh meninggalkan dharmanya sebagai pejuang.

Seperti Brahmana dalam kesulitan boleh melanggar aturan tertentu demi bertahan hidup, demikian pula Ksatria.

Bhishma menegaskan:

tidak ada makhluk yang hidup tanpa menyakiti makhluk lain,

bahkan pertapa pun demikian,

karena itu tindakan keras dalam kondisi tertentu tidak dapat dihindari.

Hubungan dasar kerajaan:

kas → menopang tentara,

tentara → menopang kekuasaan,

kekuasaan → menjaga rakyat dan dharma.

Raja dan kerajaan harus saling menjaga:

raja melindungi rakyat saat krisis,

rakyat mendukung raja saat ia lemah.

Dalam keadaan terburuk sekalipun, raja tidak boleh kehilangan:

kas,

tentara,

sekutu,

sistem hukum dan kekuasaan.

Bhishma memberi perumpamaan:
seperti pohon besar ditebang untuk tiang yajña, dan pohon lain ikut tumbang, demikian pula rintangan dalam pengumpulan kekayaan harus disingkirkan.

Kesimpulannya:

kekayaan adalah dasar kekuasaan,

tanpa kekayaan, seseorang seperti mati,

dengan kekayaan, seseorang dapat memperoleh dunia ini dan dunia berikutnya.

Namun penutupnya sangat penting: kas harus diisi dengan dharma— bukan dengan kejahatan, kecuali dalam batas darurat yang sangat sempit.

Demikianlah ajaran tentang kebijakan raja dalam masa krisis—keras, realistis, tetapi tetap dibingkai oleh dharma.”

Cari dalam Santi Parwa II

Ketik sedikitnya 2 huruf.