KAWI SASTRA MANDALAPUSTAKA DIGITAL · ALIH BAHASAKoleksi Alih Bahasa ↗
BAGIAN 103 / 263 · ± 2 MENIT BACA

11.9 KPI Perspektif Artha

11.9 KPI Perspektif Artha

KPI perspektif Artha harus menggambarkan kesehatan ekonomi secara menyeluruh.

Bidang

Contoh IKU

Pendapatan

Pertumbuhan pendapatan

Profitabilitas

Margin laba operasi

Profitabilitas

Margin laba bersih

Arus Kas

Arus kas operasi

Likuiditas

Rasio lancar

Efisiensi

Biaya terhadap pendapatan

Produktivitas Aset

Pendapatan per aset

Pengembalian Aset

Tingkat pengembalian aset

Pengembalian Modal

Tingkat pengembalian modal

Struktur Modal

Rasio utang

Pertumbuhan Nilai

Pertumbuhan nilai ekuitas

Tetapi tidak semua organisasi perlu menggunakan semua ukuran. Perusahaan hotel dapat lebih memperhatikan pendapatan per kamar dan tingkat hunian. Rumah sakit dapat memantau pendapatan, margin, serta pemanfaatan kapasitas. Perusahaan transportasi dapat melihat pendapatan per kendaraan. Perusahaan properti dapat menilai pendapatan berulang, tingkat hunian aset, dan pengembalian investasi.

KPI Artha juga harus dibaca bersama tiga perspektif sebelumnya.

Misalnya:

Laba naik karena produktivitas meningkat adalah sinyal sehat.

Tetapi:

Laba naik karena pemeliharaan dihentikan mungkin merupakan tanda bahaya.

Demikian juga:

Pendapatan naik karena pelanggan bertambah berbeda maknanya dengan:

Pendapatan naik tetapi kepuasan pelanggan turun tajam.

Karena itu KPI Artha tidak boleh dibaca sendirian.

Hubungan empat perspektif DSM menjadi utuh:

Swadharma Kapabilitas → Dharma Proses yang benar →

Kama Nilai dan kepuasan stakeholder → Artha Kemakmuran dan hasil ekonomi

Namun siklus tidak berhenti pada Artha.

Sebagian Artha harus kembali digunakan untuk memperkuat Swadharma:

Artha → investasi → manusia, teknologi, aset, inovasi → Swadharma baru.

Inilah perbedaan penting antara kemakmuran yang dikonsumsi dan kemakmuran yang digunakan untuk membangun masa depan.

Dalam DSM, Artha bukan ukuran bahwa organisasi telah selesai mencapai tujuannya. Artha adalah bukti sementara bahwa rangkaian sebab sebelumnya bekerja sekaligus sumber daya untuk melanjutkan perjalanan organisasi.

Prinsip Bab ini dapat diringkas:

Swadharma membangun kemampuan. Dharma memastikan kemampuan digunakan dengan benar. Kama memastikan stakeholder menerima nilai. Artha menunjukkan bahwa nilai tersebut berhasil dikonversi menjadi kemakmuran yang dapat menopang keberlanjutan organisasi.

Karena itu:

Jangan mengejar Artha dengan mengorbankan sumber yang melahirkannya. Kelolalah Artha agar ia kembali memperkuat kehidupan organisasi.

Ilustrasi dari naskah

Cari dalam Dharma Strategic Management

Ketik sedikitnya 2 huruf.