11.9 KPI Perspektif Artha
KPI perspektif Artha harus menggambarkan kesehatan ekonomi secara menyeluruh.
Bidang | Contoh IKU |
Pendapatan | Pertumbuhan pendapatan |
Profitabilitas | Margin laba operasi |
Profitabilitas | Margin laba bersih |
Arus Kas | Arus kas operasi |
Likuiditas | Rasio lancar |
Efisiensi | Biaya terhadap pendapatan |
Produktivitas Aset | Pendapatan per aset |
Pengembalian Aset | Tingkat pengembalian aset |
Pengembalian Modal | Tingkat pengembalian modal |
Struktur Modal | Rasio utang |
Pertumbuhan Nilai | Pertumbuhan nilai ekuitas |
Tetapi tidak semua organisasi perlu menggunakan semua ukuran. Perusahaan hotel dapat lebih memperhatikan pendapatan per kamar dan tingkat hunian. Rumah sakit dapat memantau pendapatan, margin, serta pemanfaatan kapasitas. Perusahaan transportasi dapat melihat pendapatan per kendaraan. Perusahaan properti dapat menilai pendapatan berulang, tingkat hunian aset, dan pengembalian investasi.
KPI Artha juga harus dibaca bersama tiga perspektif sebelumnya.
Misalnya:
Laba naik karena produktivitas meningkat adalah sinyal sehat.
Tetapi:
Laba naik karena pemeliharaan dihentikan mungkin merupakan tanda bahaya.
Demikian juga:
Pendapatan naik karena pelanggan bertambah berbeda maknanya dengan:
Pendapatan naik tetapi kepuasan pelanggan turun tajam.
Karena itu KPI Artha tidak boleh dibaca sendirian.
Hubungan empat perspektif DSM menjadi utuh:
Swadharma Kapabilitas → Dharma Proses yang benar →
Kama Nilai dan kepuasan stakeholder → Artha Kemakmuran dan hasil ekonomi
Namun siklus tidak berhenti pada Artha.
Sebagian Artha harus kembali digunakan untuk memperkuat Swadharma:
Artha → investasi → manusia, teknologi, aset, inovasi → Swadharma baru.
Inilah perbedaan penting antara kemakmuran yang dikonsumsi dan kemakmuran yang digunakan untuk membangun masa depan.
Dalam DSM, Artha bukan ukuran bahwa organisasi telah selesai mencapai tujuannya. Artha adalah bukti sementara bahwa rangkaian sebab sebelumnya bekerja sekaligus sumber daya untuk melanjutkan perjalanan organisasi.
Prinsip Bab ini dapat diringkas:
Swadharma membangun kemampuan. Dharma memastikan kemampuan digunakan dengan benar. Kama memastikan stakeholder menerima nilai. Artha menunjukkan bahwa nilai tersebut berhasil dikonversi menjadi kemakmuran yang dapat menopang keberlanjutan organisasi.
Karena itu:
Jangan mengejar Artha dengan mengorbankan sumber yang melahirkannya. Kelolalah Artha agar ia kembali memperkuat kehidupan organisasi.
