Ya ring rasa Sanghyang Siwagama, haywa siragya lumekas hapayapan, tan dadi ring Dhangupadhyaya. Hamurangga Sanghyang Kasiwangwan, kumeng deyan-ira preketining sarira, waswasen rumuhun rapwan tan kasonangamung. Ndya deyan nira dumela preketi, sugya kalinganta. Nihan kramanyampih: delen ta hananing guna dosaning awak, swikaran gengeng sarwwa guna wehen pari suddha, aryyaken sahanan ing dosa, jenenghakena Sanghyang Kabhujanggan, inget hinget mula madhya wasananya.

Apabila seseorang belum sungguh-sungguh memahami rasa dan hakikat ajaran Sanghyang Siwagama, janganlah ia tergesa-gesa melangkah untuk melakukan upacara pengangkatan, karena ia belum layak menjadi Dhangupadhyaya.
Ia harus terlebih dahulu menundukkan dan mengendalikan Sanghyang Kasiwangwan (gejolak batin dan nafsu), meneliti dengan saksama kondisi dan kecenderungan tubuh serta batinnya sendiri, dan bersikap waspada sebelum bertindak agar tidak terjerumus ke dalam kekeliruan.
Bagaimanakah cara meneliti dan menimbang diri itu? Berikut tata caranya: hendaknya diperhatikan dengan cermat keberadaan sifat-sifat baik dan buruk dalam diri; diterima dan dipelihara dengan sungguh-sungguh seluruh kebajikan yang mengarah pada kesucian; disingkirkan dan dikendalikan segala bentuk dosa; ditegakkan ajaran Sanghyang Kabhujanggan; serta senantiasa diingat dan direnungkan asal, proses, dan tujuan akhir kehidupan (mula, madhya, wasana).
