KAWI SASTRA MANDALAPUSTAKA DIGITAL · SERIAL MAHABHARATAPustaka Baca ↗
BAGIAN 28 / 102 · ± 2 MENIT BACA

Chaitraratha Parva — Bagian CLXVIII

Dengarkan bagian iniSuara bahasa Indonesia dari perangkat Anda

Bagian CLXVIII

Brahmana itu berkata: Di daerah tempat Gangga turun ke dataran, hiduplah resi agung Bharadwaja, seorang pertapa besar yang sangat bijaksana. Suatu hari ia datang ke Gangga untuk mandi dan melihat apsara Ghritachi berdiri di tepi sungai setelah selesai mandi. Saat itu angin bertiup dan menyingkap pakaiannya. Melihat hal itu, Bharadwaja tergerak oleh nafsu. Benihnya keluar dan ia menampungnya dalam sebuah tempayan. Dari tempayan itu lahirlah seorang putra yang kemudian dikenal sebagai Drona.

Drona tumbuh mempelajari seluruh Weda. Bharadwaja mempunyai seorang sahabat bernama Prishata, raja Panchala. Pada masa yang hampir sama, Prishata juga memperoleh seorang putra bernama Drupada. Drupada sering datang ke asrama Bharadwaja dan belajar bersama Drona, sehingga mereka tumbuh sebagai sahabat.

Setelah Prishata meninggal, Drupada naik takhta. Pada waktu itu Drona mendengar bahwa Rama Jamadagni hendak memberikan seluruh hartanya sebelum masuk ke hutan. Drona segera mendatanginya dan berkata, “Wahai brahmana agung, aku Drona datang untuk meminta hartamu.” Parasurama menjawab, “Semua hartaku telah kuberikan. Yang tersisa hanya tubuhku dan semua senjataku. Pilih salah satu.” Drona berkata, “Berikan kepadaku semua senjatamu beserta rahasia pemakaian dan penarikannya.” Parasurama menjawab, “Baiklah,” lalu menyerahkan seluruh senjatanya, termasuk senjata Brahma.

Setelah memperoleh ilmu dan senjata itu, Drona pergi menemui Drupada dan berkata, “Kenalilah aku sebagai sahabatmu.” Namun Drupada menjawab dengan angkuh, “Seorang raja hanya dapat bersahabat dengan raja. Orang yang tidak sederajat tidak patut disebut sahabat. Bagaimana mungkin engkau, yang bukan raja, mengaku sahabatku?”

Kata-kata itu sangat melukai hati Drona. Ia pun pergi ke Hastinapura. Di sana Bhishma menyerahkan para pangeran Kuru kepadanya untuk dididik dalam ilmu senjata. Setelah mereka mahir, Drona berkata, “Sebagai guru-dakshina, lakukan sesuatu yang sangat kuinginkan.” Murid-muridnya menjawab, “Kami siap.” Lalu setelah mereka benar-benar terlatih, Drona berkata, “Drupada, raja Panchala, harus kalian kalahkan dan bawa kepadaku.”

Para Pandawa kemudian mengalahkan Drupada dan membawanya sebagai tawanan. Drona berkata kepadanya, “Dulu engkau berkata hanya raja dapat bersahabat dengan raja. Karena itu sekarang aku akan membagi kerajaanmu. Engkau memerintah di selatan Gangga, aku di utara.” Drupada menjawab, “Baiklah. Semoga persahabatan tetap ada di antara kita.” Namun dalam hatinya ia menyimpan bara penghinaan itu dan tidak pernah melupakannya.

Cari dalam Adi Parwa III

Ketik sedikitnya 2 huruf.