KAWI SASTRA MANDALAPUSTAKA DIGITAL · SERIAL MAHABHARATAPustaka Baca ↗
BAGIAN 89 / 102 · ± 2 MENIT BACA

Khandava-daha Parva — Bagian CCXXVIII

Dengarkan bagian iniSuara bahasa Indonesia dari perangkat Anda

Bagian CCXXVIII

Waisampayana berkata, “Lalu kedua kesatria terunggul, Krishna dan Arjuna, menaiki kereta mereka dan mengambil posisi di dua sisi berlawanan dari hutan itu. Mereka mulai membantai makhluk-makhluk penghuni Khandava di semua arah. Di mana pun ada makhluk yang hendak melarikan diri, ke sanalah kedua pahlawan itu segera melesat untuk mencegahnya. Kedua kereta itu seolah satu, dan kedua penunggangnya juga tampak seperti satu sosok saja.

“Ketika hutan terbakar, ratusan ribu makhluk hidup menjerit ngeri dan berlarian ke segala arah. Ada yang anggota tubuhnya terbakar, ada yang hangus karena panas, ada yang baru keluar, ada pula yang mondar-mandir karena ketakutan. Banyak yang memeluk anak-anak mereka, ada yang memeluk orang tua dan saudara-saudara, lalu mati tanpa mampu melepaskan yang mereka cintai. Ada yang menggigit bibir bawahnya, melonjak ke udara, lalu jatuh berputar ke dalam api. Ada pula yang berguling di tanah dengan sayap, mata, dan kaki yang hangus. Mereka mati hampir seketika. Kolam dan telaga di dalam hutan mendidih karena panas yang melingkupinya; ikan-ikan dan kura-kura di dalamnya pun mati. Dalam pembantaian besar itu, tubuh-tubuh hewan yang terbakar tampak seolah api sendiri telah mengambil banyak bentuk. Burung-burung yang mencoba terbang lolos ditembaki Arjuna dan terpotong-potong, lalu jatuh ke dalam api sambil menjerit. Teriakan para penghuni hutan yang tertembus panah terdengar seperti hiruk-pikuk dahsyat saat samudra dikocok pada zaman dahulu. Lidah-lidah api yang mencapai langit membuat para dewa sendiri cemas. Semua penghuni surga lalu pergi menemui Indra, sang penakluk asura, dan berkata, ‘Mengapa Agni membakar makhluk-makhluk itu? Apakah saat kehancuran dunia telah tiba?’

“Sesudah mendengar para dewa dan melihat sendiri apa yang terjadi, pembunuh Vritra itu berangkat melindungi Khandava. Segera Vasava menutup langit dengan awan-awan dari segala jenis dan mulai mengguyur hutan yang terbakar itu. Awan-awan itu menurunkan hujan selebat tiang-tiang kereta perang. Tetapi semua hujan itu kering di langit karena panas api dan tak mampu mencapai nyala. Maka pembunuh Namuchi itu menjadi marah, mengumpulkan awan yang lebih besar, dan menyuruhnya mencurahkan hujan yang lebih deras lagi. Maka nyala api beradu dengan hujan deras itu; dengan awan-awan besar di atas, Khandava tampak amat mengerikan, penuh asap dan kilat.”

Cari dalam Adi Parwa III

Ketik sedikitnya 2 huruf.