Bagian CCLXXVI
Markandeya berkata, ‘Melihat Rahwana datang, Maricha menerimanya dengan sambutan hormat, dan mempersembahkan buah-buahan dan umbi-umbian. Dan setelah Rahwana duduk, dan beristirahat sejenak, Maricha yang mahir berbicara, duduk di samping Rahwana dan berbicara kepada dia yang juga fasih berbicara, katanya, “Warna wajahmu telah berubah tidak wajar; apakah semuanya baik-baik saja dengan kerajaanmu, wahai raja para Rakshasa? Apa yang membawamu ke sini? Apakah rakyatmu tetap memberikan kepadamu kesetiaan yang sama seperti dahulu? Urusan apa yang membawamu kemari? Ketahuilah bahwa urusan itu telah terpenuhi, bahkan jika itu sangat sukar dipenuhi!” Rahwana, yang hatinya diguncang murka dan penghinaan, singkatnya memberitahu kan kepadanya perbuatan-perbuatan Rama dan tindakan-tindakan yang harus diambil. Dan mendengar ceritanya, Maricha singkatnya menjawab kepadanya, katanya, “Engkau jangan memancing Rama, sebab aku mengetahui kekuatannya! Adakah seorang pun yang sanggup menahan daya lesat anak panahnya? Orang agung itu telah menjadi sebab aku mengambil hidup pertapa seperti sekarang ini. Makhluk berhati jahat manakah yang mendorongmu pada jalan yang diperhitungkan akan mendatangkan kehancuran dan kebinasaan bagimu?” Atas hal ini Rahwana dengan marah menjawab, sambil mencelanya demikian, “Jika engkau tidak menaati perintahku, engkau pasti akan mati di tanganku.” Maka Maricha berpikir dalam hatinya, “Bila kematian tak terelakkan, aku akan melakukan perintahnya; sebab lebih baik mati di tangan orang yang lebih tinggi.” Lalu ia menjawab kepada penguasa Rakshasa itu, katanya, “Aku pasti akan memberikan pertolongan apa pun yang dapat kuberikan kepadamu!” Maka Rahwana yang berkepala sepuluh berkata kepadanya, “Pergilah dan pikatlah Sita, dengan mengambil rupa seekor rusa bertanduk emas dan berkulit emas! Ketika Sita akan melihatmu demikian, ia pasti akan mengirim Rama pergi untuk memburumu. Dan kemudian Sita pasti akan jatuh ke dalam kekuasaanku, dan aku akan membawanya pergi dengan paksa. Dan kemudian Rama yang celaka itu pasti akan mati karena duka kehilangan istrinya. Bantulah aku dengan cara ini!”
‘Setelah dikatakan demikian, Maricha melakukan upacara kematiannya (karena sudah menduga akan mati) dan dengan hati sedih mengikuti Rahwana yang berjalan di depannya. Dan setelah mencapai pertapaan Rama yang perbuatannya sukar ditandingi, mereka berdua melakukan seperti yang sudah direncanakan sebelumnya. Dan Rahwana muncul dalam penyamaran seorang pertapa dengan kepala dicukur, dan berhias kamandalu, dan tongkat bercabang tiga. Dan Maricha muncul dalam rupa seekor rusa. Dan Maricha menampakkan dirinya di hadapan putri Videha dalam rupa itu. Dan didorong oleh Takdir, ia menyuruh Rama pergi mengejar rusa itu. Dan Rama, dengan tujuan menyenangkan dia, segera mengambil busurnya, dan meninggalkan Lakshmana di belakang untuk melindunginya, lalu pergi mengejar rusa itu. Dan dengan bersenjata busur, tabung panah, dan pedang, dan jari-jari tangannya berbungkus sarung dari kulit Guana, Rama pergi mengejar rusa itu, menurut cara Rudra mengejar rusa bintang50 pada masa lampau. Dan Rakshasa itu memancing Rama pergi jauh sekali dengan sesekali menampakkan diri kepadanya dan sesekali lenyap dari pandangannya. Dan ketika Rama akhirnya mengetahui siapa dan apa rusa itu, yaitu bahwa ia seorang Rakshasa, keturunan Raghu yang mulia itu mengambil sebuah panah yang tak pernah gagal dan membunuh Rakshasa itu, yang sedang menyamar sebagai rusa. Dan ketika terkena panah Rama, Rakshasa itu, meniru suara Rama, berteriak sangat kesakitan, memanggil Sita dan Lakshmana. Dan ketika putri Videha mendengar jeritan kesakitan itu, ia mendesak Lakshmana agar berlari menuju arah dari mana jeritan itu datang. Maka Lakshmana berkata kepadanya, “Wahai wanita penakut, engkau tidak punya alasan untuk takut! Siapakah yang begitu kuat sehingga sanggup melukai Rama? Wahai engkau yang bersenyum manis, sebentar lagi engkau akan melihat suamimu Rama!” Setelah dikatakan demikian, Sita yang suci, karena ketakutan yang merupakan sifat alamiah perempuan, menjadi curiga bahkan kepada Lakshmana yang suci, lalu mulai menangis keras. Dan wanita suci yang setia kepada suaminya itu dengan kasar mencela Lakshmana, katanya, “Tujuan yang engkau, wahai orang bodoh, simpan di dalam hatimu itu, tak akan pernah tercapai! Aku lebih suka membunuh diriku sendiri dengan senjata atau menjatuhkan diri dari puncak gunung atau masuk ke dalam api yang menyala daripada hidup dengan orang hina seperti engkau, meninggalkan suamiku Rama, seperti seekor harimau betina di bawah perlindungan seekor serigala!”
‘Ketika Lakshmana yang berhati baik, yang sangat mencintai saudaranya, mendengar kata-kata ini, ia menutup telinganya (dengan tangannya) dan berangkat mengikuti jejak yang diambil Rama. Dan Lakshmana pergi tanpa melirik sekali pun pada wanita yang berbibir lembut dan merah seperti buah Bimba itu. Sementara itu, Rahwana sang Rakshasa, mengenakan penyamaran yang sopan meskipun hatinya jahat, dan seperti api yang terselubung dalam tumpukan abu, menampakkan dirinya di sana. Dan ia muncul di sana dalam penyamaran seorang pertapa, untuk membawa pergi dengan paksa wanita yang tak bercela itu. Putri Janaka yang berbudi, melihat dia datang, menyambutnya dengan buah-buahan dan umbi-umbian serta sebuah tempat duduk. Mengabaikan semuanya ini, dan mengambil bentuk aslinya, banteng di antara Rakshasa itu mulai membujuk putri Videha dengan kata-kata ini, “Aku adalah, wahai Sita, raja para Rakshasa, dikenal dengan nama Rahwana! Kotaku yang menyenangkan, dikenal dengan nama Lanka, berada di seberang samudra raya! Di sana, di antara perempuan-perempuan cantik, engkau akan bersinar bersamaku! Wahai wanita berbibir indah, tinggalkanlah Rama si pertapa dan jadilah istriku!” Putri Janaka yang berbibir indah itu, mendengar ini dan kata-kata lain yang sejenis, menutup telinganya dan menjawab kepadanya, katanya, “Jangan berkata demikian! Langit dengan segala bintangnya boleh jatuh, bumi sendiri boleh pecah berkeping-keping, api sendiri boleh berubah sifat menjadi dingin, namun aku tidak dapat meninggalkan keturunan Raghu! Bagaimana seekor gajah betina yang telah hidup dengan pemimpin kawanan yang perkasa dengan pelipis yang pecah mengalirkan cairan, meninggalkannya dan hidup dengan seekor babi? Setelah sekali mencicipi anggur manis yang dibuat dari madu atau bunga-bunga, bagaimana mungkin seorang wanita, kurasa, menyukai arak buruk dari beras?” Setelah mengucapkan kata-kata itu, ia masuk ke pondok, bibirnya gemetar karena marah dan lengannya bergerak ke sana kemari karena emosi. Akan tetapi Rahwana mengikutinya ke sana dan menghadang jalannya lebih lanjut. Dan setelah dimaki kasar oleh Rakshasa itu, ia pingsan. Tetapi Rahwana mencengkeram rambut kepalanya, lalu terbang ke udara. Kemudian seekor burung nazar besar bernama Jatayu yang tinggal di puncak gunung, melihat wanita tak berdaya itu sedang menangis dan memanggil-manggil Rama dengan sangat pilu ketika dibawa lari Rahwana.’”