Bagian CXII
Galava berkata, “Wahai Garuda, wahai pembunuh ular-ular utama, wahai engkau yang berbulu indah, wahai putra Vinata, bawalah aku, wahai Tarkhya, ke timur, tempat dua mata Dharma pertama kali terbuka. O, bawalah aku ke timur yang mula-mula engkau gambarkan, dan yang, katamu, selalu didiami para dewa. Engkau telah berkata bahwa di sanalah kebenaran dan kebajikan bersemayam. Aku ingin bertemu semua dewa. Karena itu, wahai adik Aruna, bawalah aku ke sana, agar aku dapat melihat para dewa.”
Narada melanjutkan, ‘Setelah disapa demikian, putra Vinata menjawab Brahmana itu, “Naiklah ke punggungku.” Maka Muni Galava pun menaiki punggung Garuda. Dan Galava berkata, “Keindahanmu, wahai pemakan ular, ketika engkau melaju, tampak seperti matahari sendiri di pagi hari, sang pembuat siang yang bercahaya seribu sinar. Dan, wahai pengembara angkasa, begitu besar kecepatanmu sehingga pohon-pohon pun, yang patah diterjang badai dari kibasan sayapmu, seakan mengejarmu di perjalanan. Engkau tampak, wahai penghuni langit, seolah menyeret bumi dengan seluruh air samudranya, beserta semua gunung, rimba, dan hutannya, oleh badai yang ditimbulkan sayapmu. Sesungguhnya, angin ribut yang timbul dari gerak sayapmu tampak terus-menerus mengangkat ke udara air laut, beserta segala ikannya, ular-ularnya, dan buayanya. Aku melihat ikan-ikan yang berwajah aneh, juga Timi dan Timingila, dan ular-ular berwajah manusia, semuanya dihancurkan oleh badai yang ditimbulkan sayapmu. Telingaku menjadi tuli oleh gemuruh samudra. Aku begitu tertegun sehingga tak dapat mendengar ataupun melihat apa pun. Sesungguhnya, aku telah melupakan tujuanku sendiri. Kurangkanlah kecepatannmu, wahai pengembara langit, ingatlah bahaya bagi nyawa seorang Brahmana. Wahai junjungan, baik matahari, maupun titik-titik penjuru, maupun angkasa itu sendiri, tak lagi terlihat olehku. Aku hanya melihat kegelapan pekat di sekelilingku. Tubuhku sendiri tak lagi tampak. Aku hanya melihat kedua matamu, wahai makhluk bertelur, yang menyerupai dua permata bercahaya. Aku tidak dapat melihat tubuhmu maupun tubuhku sendiri. Pada setiap langkah, aku melihat percikan api keluar dari tubuhmu. Hentikanlah tanpa tunda percikan api ini dan padamkan cahaya menyilaukan dari kedua matamu. Wahai putra Vinata, kurangkanlah laju perjalananmu yang terlampau cepat ini. Wahai pemakan ular, aku tak punya urusan untuk pergi bersamamu. Berhentilah, wahai yang diberkahi, aku tak sanggup menanggung kecepatanmu ini. Aku telah berjanji memberi guruku delapan ratus ekor kuda putih bercahaya bagai bulan, masing-masing bertelinga satu hitam warnanya. Aku tidak melihat jalan, wahai makhluk bertelur, untuk memenuhi janjiku. Hanya ada satu jalan yang kulihat, dan itu adalah melepaskan nyawaku sendiri. Aku tidak punya kekayaan sendiri, tak punya sahabat kaya, dan kekayaan, betapapun besarnya, tidak dapat menjamin tercapainya tujuanku.”’
Narada melanjutkan, ‘Kepada Galava yang mengucapkan ini dan banyak kata-kata permohonan serta dukacita lainnya, putra Vinata, tanpa mengurangi kecepatannya, sambil tertawa menjawab, “Sedikit kebijaksanaanmu, wahai Resi dua kali lahir, sebab engkau hendak mengakhiri hidupmu sendiri. Kematian tak pernah dapat didatangkan oleh usaha sendiri. Sesungguhnya, Kematian adalah Tuhan sendiri. Mengapa sebelumnya engkau tidak memberitahuku tujuanmu? Ada cara-cara yang sangat baik untuk menyelesaikan semua ini. Inilah gunung bernama Rishabha di tepi laut. Setelah beristirahat sebentar di sini dan menyegarkan diri dengan makanan, aku akan kembali, wahai Galava.”’