KAWI SASTRA MANDALAPUSTAKA DIGITAL · SERIAL MAHABHARATAPustaka Baca ↗
BAGIAN 06 / 70 · ± 2 MENIT BACA

Mokshadharma Parva — Bagian CCXXI

Dengarkan bagian iniSuara bahasa Indonesia dari perangkat Anda

Bagian CCXXI

Yudhishthira berkata, “Tiga golongan dwija (Brahmana, Kshatriya, Vaisya), yang menjalankan korban dan ritual, kadang memakan sisa persembahan berupa daging dan minuman dari korban kepada para dewa, dengan tujuan memperoleh keturunan dan surga. Bagaimanakah hakikat perbuatan ini, wahai kakek?”

Bhishma berkata, “Mereka yang memakan makanan terlarang tanpa menjalankan korban dan sumpah yang ditetapkan dalam Weda dianggap sebagai orang yang sengaja berbuat salah, bahkan telah jatuh dari dharma.

Sebaliknya, mereka yang memakan makanan itu dalam rangka pelaksanaan korban dan sumpah Weda, serta didorong oleh keinginan akan hasil seperti surga dan keturunan, memang mencapai surga, tetapi akan jatuh kembali ketika pahala mereka habis.”

Yudhishthira berkata, “Orang-orang biasa mengatakan bahwa berpuasa adalah tapa. Benarkah demikian, ataukah tapa itu sesuatu yang lain?”

Bhishma berkata, “Memang banyak orang menganggap puasa—baik berhari-hari, setengah bulan, atau berbulan-bulan—sebagai tapa. Namun menurut orang bijak, itu bukan tapa sejati. Bahkan puasa dapat menjadi penghalang untuk memperoleh pengetahuan tentang Jiwa.

Sebaliknya, meninggalkan perbuatan (yang sangat sulit dilakukan) dan kerendahan hati—yang berarti menghormati semua makhluk dan memperhatikan mereka—itulah tapa tertinggi. Itu lebih unggul dari semua bentuk tapa lainnya.

Orang yang menjalankan tapa seperti itu dianggap selalu berpuasa, selalu menjalankan Brahmacharya, selalu menjadi Muni, selalu seperti dewa, selalu terjaga, dan selalu menempuh jalan kebajikan, bahkan bila ia hidup dalam keluarga.

Ia akan menjadi vegetarian, selalu suci, seakan-akan selalu memakan amrita (makanan ilahi), selalu memuja para dewa dan tamu, selalu hidup dari sisa persembahan, selalu menjalankan kewajiban menjamu tamu, dan selalu penuh keyakinan.”

Yudhishthira berkata, “Bagaimana seseorang yang menjalankan tapa seperti itu dapat disebut selalu berpuasa, selalu Brahmacharin, selalu hidup dari sisa persembahan, dan selalu menghormati tamu?”

Bhishma berkata, “Ia disebut selalu berpuasa bila ia makan hanya dua kali sehari, siang dan malam, pada waktu yang tetap, tanpa makan di antaranya.

Ia menjadi Brahmacharin dengan selalu berkata benar, berpegang pada kebijaksanaan, dan hanya mendatangi istrinya pada waktu yang tepat, bukan pada waktu lain.

Dengan tidak memakan daging kecuali dari hewan yang dikorbankan secara sah, ia menjadi vegetarian sejati. Dengan selalu memberi, ia menjadi suci. Dengan tidak tidur pada siang hari, ia menjadi selalu terjaga.

Ketahuilah, wahai Yudhishthira, bahwa orang yang makan hanya setelah memberi makan pelayan dan tamunya disebut sebagai pemakan amrita.

Seorang Brahmana yang tidak makan sebelum memberi makan para dewa dan tamu, dengan pengendalian itu memperoleh surga. Ia disebut hidup dari sisa persembahan karena ia hanya makan apa yang tersisa setelah memberi kepada dewa, Pitri, pelayan, dan tamu.

Orang seperti itu memperoleh banyak alam kebahagiaan di kehidupan selanjutnya. Para dewa dan Apsara datang ke rumah mereka bersama Brahman sendiri.

Mereka yang membagi makanan dengan dewa dan Pitri hidup dalam kebahagiaan bersama anak dan cucu, dan akhirnya, setelah meninggalkan tubuh, mencapai tujuan yang sangat tinggi.”

Cari dalam Santi Parwa IV

Ketik sedikitnya 2 huruf.