KAWI SASTRA MANDALAPUSTAKA DIGITAL · SERIAL MAHABHARATAPustaka Baca ↗
BAGIAN 90 / 125 · ± 2 MENIT BACA

Bhishma-vadha Parva — Bagian LXXXIX

Dengarkan bagian iniSuara bahasa Indonesia dari perangkat Anda

Bagian LXXXIX

Sanjaya berkata,—
“Para Pandawa bahkan tidak sanggup memandang Bhishma yang sedang murka, membakar segala arah seperti matahari. Atas perintah Yudhishthira, seluruh pasukan menyerbu putra Gangga itu yang menghancurkan segalanya dengan panahnya.

Namun Bhishma, yang gemar bertempur, menewaskan para pemanah terbaik dari Srinjaya dan Panchala. Walau demikian, para Panchala dan Somaka tetap maju tanpa takut mati. Bhishma memotong kepala dan lengan para kesatria, merusak kereta mereka, dan menjatuhkan penunggang kuda. Gajah-gajah besar tanpa penunggang tampak bergelimpangan seperti gunung.

Di pihak Pandawa, hanya Bhima yang mampu menghadapi Bhishma. Ia maju dan bertarung dengannya. Pertempuran mereka menimbulkan gemuruh besar; pasukan Kaurava gemetar, sementara Pandawa bersorak.

Duryodhana bersama saudara-saudaranya melindungi Bhishma. Bhima kemudian membunuh sais kereta Bhishma, sehingga kuda-kudanya lari tak terkendali. Lalu dengan panah tajam ia memenggal kepala Sunabha.

Melihat itu, tujuh saudara Duryodhana—Adityaketu, Vahvasin, Kundadhara, Mahodara, Aparajita, Panditaka, dan Visalaksha—maju menyerang Bhima. Mereka menghujaninya dengan panah dari berbagai arah.

Namun Bhima tidak gentar. Dengan busur di tangan kiri, ia memenggal kepala Aparajita. Lalu membunuh Kundadhara dengan panah besar. Ia juga menewaskan Panditaka, yang panahnya menembus bumi seperti ular. Kemudian ia memenggal Visalaksha dengan tiga panah.

Mahodara dibunuh dengan panah di dada. Adityaketu dipenggal setelah payungnya dipotong. Vahvasin juga dibunuh dengan panah lurus.

Melihat saudara-saudaranya gugur, putra-putramu yang lain melarikan diri, teringat ucapan Bhima di sidang dahulu.

Duryodhana yang berduka berkata kepada pasukannya,—
‘Itulah Bhima! Bunuh dia!’

Namun mereka teringat nasihat bijak Vidura yang dulu diabaikan. Kini jelas bahwa Bhima memang dilahirkan untuk membinasakan putra-putramu.

Duryodhana, diliputi duka, mendatangi Bhishma dan berkata,—
‘Saudara-saudaraku telah dibunuh oleh Bhima. Pasukan kita terus gugur walau bertempur gagah. Engkau tampak tidak peduli. Ah, betapa buruk nasibku!’

Sanjaya melanjutkan,—
“Mendengar kata-kata itu, Bhishma dengan mata berkaca-kaca berkata,—
‘Semua ini telah kami katakan dahulu—aku, Drona, Vidura, dan Gandhari—namun engkau tidak memahaminya. Telah kutetapkan bahwa aku dan Drona tidak akan selamat dari perang ini.

Ketahuilah, siapa pun yang dipandang Bhima di medan perang pasti akan dibunuhnya. Maka tabahkan hatimu dan bertempurlah demi mencapai surga.

Adapun Pandawa, bahkan para dewa pun tidak mampu mengalahkan mereka. Karena itu, teguhkan hatimu dan bertempurlah, wahai Bharata.’”

Cari dalam Bisma Parwa

Ketik sedikitnya 2 huruf.